islam

True this

rebutt kapitalis pahala

Advertisements

Memaknai Kebahagiaan

 

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور

Artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,. seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid: 20)

Dalam memaknai kebahagiaan banyak aspek dan perspektif yang bisa kita pakai. Perspektif nikmat adalah yang paling mudah. Nikmat merupakan suatu hal yang positif bagi manusia, selalu digunakan untuk menunjukkan hal yang positif, baik dalam bentuk perasaan, fisik, ataupun non-fisik. Semua orang ingin mendapatkan nikmat sebanyak-banyaknya, mau itu materi ataupun nikmat non-materi.

Namun didalam ayat diatas dijelaskan bahwa tidak semua nikmat itu baik. Nikmat akan jadi buruk jika kita tidak bisa menyikapinya dengan benar. Jika kita tidak bisa menggunakan nikmat itu dengan benar. Ketika kita salah menyikapi dan menggunakan nikmat kita, maka nikmat itu kemudian jadi cobaan untuk kita. Dan jika kita gagal melawan dan menghadapi cobaan tersebut, maka kita bisa terjerumus lubang dosa.

Menariknya, didalam ayat tersebut, segala nikmat yang ada di dunia ini ditulis berdasarkan runtutan ketika menerima dan merasakan nikmat tersebut sesuai dengan umur kita. Dari ketika kita kecil sampai kita dewasa. Berdasarkan ceramah dari Ust. Nouman Ali Khan yang saya dengar beberapa tahun yang lalu, saya ingin coba mengingat kembali beberapa makna yang terkandung dalam ayat ini terkait kebahagiaan berdasarkan runtutan umur.

Pertama disebutkan bahwa kehidupan ini hanyalah permainan yang melalaikan. Jika kita perhatikan, kapan biasanya kita senang-senang bermain? Biasanya saat kita masih anak-anak. Keinginan kita pada saat itu hanya ingin bermain dnegan teman-teman rumah, sodara, ataupun teman sekolah. Bisa bermain bola, game, boneka, atau apapun itu. bisa dismpulkan bahwa kenikmatan utama anak-anak adalah bermain.

Kedua disebutkan bahwa kehidupan hanya perhiasan. Disini menurut Ust. Nouman, perhiasan juga bisa diartikan kecantikan. Karena memang dari definisi umum pun, perhiasan digunakan untuk memperindah penampilan agar terlihat lebih indah dan cantik. Jika kita perhatikan, kapan biasanya kita sangat perhatian pada penampilan? Pada saat remaja. Kita sudah mulai mengenal dan bermain dengan lawan jenis, dan juga timbul masa pubertas. Hal-hal ini beriiringan dengan cara kita tampil. Kita kemudian lebih memperhatikan bagaimana kita tampil, yang perempuan memikirkan hijab mana yang paling bagus, yang laki-laki memikirkan rambut mana yang pas untuk dia, itu adalah beberapa contohnya.

Ketiga yaitu bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Ini timbul saat kita dewasa. Kita mulai mempunyai pekerjaan dan memulai berkeluarga, sehingga obsesi kita adalah mempunyai pekerjaan terbaik dengan gaji yang tinggi serta keluarga yang harmonis. Itulah tujuan kita saat dewasa dan kita baru akan bahagia bila mencapai hal tersebut.

Namun selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa semua hal yang disebutkan diatas adalah kesenangan yang sementara, kenikmatan semu. Analoginya pun sangat pas, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Kebahagiaan-kebahagiaan yang disebutkan diatas hanya bersifat sementara, sangat sementara. Kemudian Allah SWT kembali mengingatkan dan menegaskan di ayat ini bahwa akhirat lah tujuan akhir kita, tujuan abadi, sehingga target kita haruslah menggapai ridho dan ampunan-Nya.

Jadi, dari ayat tersebut bisa kita simpulkan bahwa semua apa yang ada di dunia, kenikmatannya hanya sementara, dan kesenangannya menipu. Sebagai muslim kita harus fokus kepada tujuan akbar kita, yaitu akhirat. Karena di akhirat adalah tempat kembali yang abadi, sehingga segala usaha kita di dunia ini harus sejalan dan membantu kita dalam menggapai tujuan akhir kita ini. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat.

Sesat Pikir dalam Memahami Kebebasan Memilih

          Free choice atau kebebasan memilih sepertinya sudah menjadi jargon yang melekat di era modern saat ini untuk para aktivis liberal. Inti dari argumentasinya adalah bahwa semua pilihan kembali kepada pribadi masing-masing, dan tidak boleh ada yang mengekang atau membatasi pilihan individu tersebut, selama pilihannya tidak melanggar kode etik atau menganggu dan membahayakan orang lain. Sekilas memang terdengar sangat toleran dan humanis, namun ketika argumentasi ini dipakai untuk membenarkan perbuatan yang salah, disinilah kita, Muslim, harus lebih kritis.

            Islam sendiri sering dikatakan sebagai pemahaman yang terlalu mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu dalam memilih oleh para musuhnya. Contoh yang umum misalnya tentang pemakaian hijab wanita, dikatakan oleh para lawan bahwa wanita tidak bebas dalam Islam untuk berpakaian dan ini mengekang wanita dan tidak mendukung kebebadan memilih individu.

            Dalam menjawab tuduhan ini, terkadang Muslim menjadi defensif dan menolak mentah-mentah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa Islam sebenarnya mendukung kebebasan. Arguemntasinya adalah dengan memakai hijab ini saya malah menggunakan kebebasan saya dalam berpakaian dan berani menjadi berbeda dari wanita-wanita lainnya diluar. Masalah dengan argumentasi ini adalah istiliah “kebebasan untuk memilih” ini ditelan mentah-mentah dan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan wajib di bela. Akhirnya, kita malah masuk ke dalam pemahaman sekuler. Padahal jika kita kritisi lagi, mau di dalam Islam ataupun di sistem sekuler, kebebasan individu ini pasti ada yang dibatasi.

            Dalam menentukan pilihan, individu dihadapi oleh dua situasi yang berbeda, yaitu ada pilihan berdasarkan preferensi, dan ada pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika kita memilih makanan di restoran antara mie atau nasi, ini merupakan pilihan berdasarkan preferensi. Pilihan preferensial inilah yang memberikan kebebasan penuh kepada individu untuk memilih, dan masuk ke dalam kategori “free choice”, karena jika ada yang mengekang maka itu benar-benar berdasarkan kesewenangan dan tanpa alasan.

            Namun ada situasi pilihan lain, yaitu pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika seorang individu sedang mengendara dan berhenti di lampu merah, individu tersebut mempunyai pilihan untuk berhenti atau terus melaju. Perbedaannya dengan pilihan preferensial, pilihan moral ini ada konsekuensinya. Pilihan ini sudah bukan lagi tentang preferensi, namun pilihan tentang ketaatan terhadap hukum. Adanya konsekuensi jika tidak taat hukum mengindikasikan bahwa pilihan individu tersebut tidak sepenuhnya bebas, sehingga tidak masuk kategori “free choice”.

            Setelah mengetahui dua situasi dalam menetukan pilihan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah, kapan seseorang menghadapi pilihan moral? Yaitu ketika individu tersebut mempunyai konsekuensi atau hukuman ketika menentukan suatu pilihan. Dalam hal ini, konsekuensi hukuman bisa berupa apa saja, terkadang denda, pengucilan sosial, hukuman penjara, hukuman di akhirat, dan masih banyak lagi. Semua berakar dari hukum mana yang kita percayai dan anut.

         Kembali ke contoh kasus hijab tadi, baik musuh Islam yang mengatakan bahwa Islam mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu, ataupun para Muslim yang defensif yang mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu dalam memilih, dua-duanya salah dan telah sesat pikir dalam memahami kebebasan dalam memilih. Peraturan pemakaian hijab untuk wanita seutuhnya adalah pilihan berdasarkan moral, karena jika tidak taat pada peraturan tersebut maka akan ada konsekuensinya, dalam hal ini dosa. Sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu seorang Muslim, namun yang seharusnya kita katakan adalah ini bentuk ketaatan kita sebagai seorang Muslim.

        Terlebih, dapat disimpulkan bahwa sistem sekuler pun tidak mendukung sepenuhnya kebebasan individu untuk menentukan pilihan karena di sistem sekuler pun banyak hal-hal yang dibatasi yang mungkin saja bertentangan dengan preferensi pilihan seseorang. Masalahnya adalah, siapa yang berhak menentukan kapan sesuatu boleh dibatasi dan berdasarkan basis apa dibatasi hal tersebut? Disinilah muncul kelemahan Sekularisme.

        Sebagai contoh, mari kembali ke hijab dan cara wanita berpakaian. Dalam Islam, sudah sangat jelas bahwa yang menentukan tata cara wanita berpakaian adalah Allah SWT melalui Al-Qur’an dan hadist.  Sedangkan untuk basis sekuler, tata cara wanita berpakaian didasari oleh perkembangan kultur dari zaman ke zaman yang entah didasari oleh apa, dan juga ditambah kepentingan komersil berbasis kapitalis. Hal ini membuktikan dua hal, pertama, sistem sekuler pun membatasi wanita dalam berpakaian. Misal, adanya istilah dresscode, standar pakaian di tempat-tempat khusus (ex: baju kantor harus rapih dan sopan), dan lain-lain. Kedua, basis sekuler dalam membatasi wanita dalam berpakaian lebih tidak berbasis dibandingkan Islam.

      Pada akhirnya, kita sebagai Muslim harus lebih kritis dalam melawan pemahaman sekularsime dan jangan sampai masuk ke dalam lingkup pemahaman mereka. kita harus kembali mempertanyakan argumentasi dari sisi mereka, karena disitulah letak sesat pikirnya.

 

Al-Qur’an and Cultural Bias

Have you ever stumbled upon people that questioned the interpretation of Al-Qur’an? I think this is a quite common issue right now, and muslims, especially muslim youth, are struggling to answer this question, some even might be the ones that are questioning this kind of issue.

There is an urgency to explain these kind of issues towards muslim youth. Questions like, What if there is a misinterpretation of the Qur’an? What if the interpretation from these Imams and Ulama were influenced by other things such as culture or even gender?

These questions should be answered, but answered in a right way. We’re in a time where we are pushed to be more critical, but at the same time we’re being pushed to put religion aside. The current youth right now does not want dogmatic answers, they want logical answers, answers that they can fathom, that they can make sense with.

Fortunately, Alhamdulillah, i found a very logical and reasonable answer regarding this issue, from brother Daniel Haqiqatjou. Here’s what he had to say:

“Some “reformists” are quick to dismiss the great jurists of Islam, claiming that these imams were but a product of their culture and hence blindfolded by their biases. If only such people would look in the mirror and realize that they too “might” be a product of their culture, and that they could be the ones superimposing their biases on the revealed. And if we want to be fair, the degree of their culture’s conformity to Islam, and the degree they were intellectually cultured by the Qur’an and Sunnah, is much greater than ours.” -Dr Hatem al-Haj

Is it possible to understand Allah’s message as it was meant to be understood? If everyone is biased, then clearly not. Everyone’s understanding would be merely a reflection of their own biases as opposed to Allah’s intended meaning. In reality, sunniIslam has answered precisely this question. The correct and authoritative understanding of Allah’s message is first and foremost that of the Prophet peace be upon him, and then that of the Sahaba. Why the Sahaba? Because they were the most knowledgeable and observant of the Prophet’s sunna. And then their followers, i.e., the Tabi’in and so on. When we see certain ideas and positions predominant across the khalaf, who lived across hundreds of different cultures and geographies over the centuries, it is also not plausible to say that they were suffering from bias,.especially given that they too were much closer to the sunna than we are in the modern age.

Furthermore, there is the process of ijtihad. People who comment like this usual have no idea about how it or the Arabic language works. They just assume bias as if its inevitable.

There is a process, principles, that guide interpretation. And the Arabic is not able to be interpreted however one wishes. And if this does happen, there are other scholars to refute their mistakes.

No Such Thing as a “Non-Practising Muslim”

The Rise of the Term “Non-Practising Muslim”

Islam is the only religion that Allah SWT will accept. It is because of its teachings, moral values, simplicity in its concept, and its own characteristics that stands out from other religions that it appeals to many people. Thus it has the most followers in the world. Also, Its differences from other religions is very clear. Furthermore, Islam is arguably the most practicing religion there is, because there is a daily five times prayer. This is something we as muslim should take very much pride of, because it shows that we love our God and Islam, and we show our gratitude and remember Him everytime of the day. Lastly, from the concept of God to the concept of everyday life, Islam teaches all of these aspects. The job we, as muslims, have to do is just to learn more about our beloved religion through the Qur’an so we can act like a proper muslim.

But the reality right now is totally different. Religion has become distant to a person’s character. They believe that religion has nothing to do with our personalities and character. Since the beginning of secularism–the system which differentiate the role of religion and the state, people tend to become more liberalist. They believe  that day to day life problems which happens between people should be regulated by the state in which they use pure logical thinking (but the validity of logical is still questionable) and discussion through various representatives. This leads to a perspective that religion should only be between you and God, and that’s it. Since religion can not interfere in helping people to have better behaviour or character, its role thus hae been less powerful. It comes to a point, like right now, where religion is merely an addtional identity to add up in your identity card.

Because of that, there is this rise the word “non-practising muslim”. It is largely known and used in the west, like in United States or countires in Europe. These people identify themselves a muslim but publicly state that they do not practice daily prayer. It is either because of their lack of knowledge or their own ignorance about the importance of this daily prayer, that they can proudly declare themselves as a muslim. However, that is problematic.

Why is the Term Problematic?

When something have a lesser to no significant role in your life, you tend to ignore it. That is what is happening to religions right now, not only Islam, but all of the religion. But like i said before, Islam is arguably the most practicing religion there is, because there is a daily five times prayer. That’s why, it becomes less problematic for other religions if their followers do not practice their compulsory act, because there’s not a lot to do anyway. This is totally different from Islam, where we as muslims do our compulsory act five times a day from Fajr to Isya. Coming back to my point, when Islam have a lesser role in your life, you will tend to ignore it, thus you will also ignore it’s compulsory act which is Shalat.

It’s probelmatic because Islam have in length strecthed how important and useful the practice of Shalat is towards a muslim. It also have explained numerous times in the Qur’an of the punishment that we will get if we do not practice this compulsory act of worship. For several examples, Shalat is the second pillar of Islam after syahadat, Shalat is compulsory for muslim meaning that you will be sinning if you do not practice this act, and lastly Shalat is the first thing that you will be questioned in the afterlife, so if your not practicing shalat, how can you answer that question? Moreover, after giving numerous examples on how Shalat is extremely important for a muslim, how can a person declare that he/she is a muslim if they do not practice this compulsory act?

Beside that, when a person declares he is a muslim by saying the syahadat, then he must obey God and must listen and follow what the Qur’an says. In which, in one verse of the Qur;an, at Al Baqarah:208, Allah SWT tells us that the moment we declare ourselves as muslim, we must enter Islam completely and perfectly.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

O you who have believed, enter into Islam completely [and perfectly] and do not follow the footsteps of Satan. Indeed, he is to you a clear enemy.” (2:208)

The word “completely or perfectly” here means that you can not take some of the aspect of Islams and disobey the other aspects of Islam, but you have to follow all of them, which is good for all of us. Because of that, we can not be a muslim but not practice our daily prayers. It just does not work that way.

Implication

This phenomenom is also a alarming reminder for us muslims as a community or ummah. The growing term of “non-practising muslim” implicates that there is this abundant lack of understanding of how Islam works, or more philospically, of what Islam is. It shows that they merely see Islam as an identity, and nothing else. And it is our job, as an ummah, to remind them what Islam really is and how it works, so that they fully understands what it is to be a muslim.

Religion and Politics

i wrote this because i felt an urge to clarify what i believe is right, and what people right now is misudernstanding.

terkait kasus yang lagi hangat2nya sekarang, kayaknya udah banyak banget yang ngasih pendapat yang wise dan dengan perspektif yang berbeda-beda.  disini saya gak mau bahas panjang lebar terkait kasus tersebut, tapi ini akan lebih fokus ke perspektif yang lebih luas, yaitu apakah agama dan politik bisa disatukan atau tidak? ]

ada beberapa statement yang menurut saya agak problematic jika tidak di cerna secara baik-baik.

kurang lebih bunyinya begini:

“mereka memperdagangkan agama untuk kekuasaan.”

“ini akibatnya ketika agama dicampuradukkan dengan politik”

statement yang simple, tapi cukup misleading kalau tidak dicerna secara hati-hati. umumnya, orang yang membaca statement itu pertama kali pasti bacanya dalam kontoasi negatif, ya gak? iyalah agama kok diperdagangkan sih, kan di Al-Qur’an aja udah di state gak boleh.

but hold on a minute, coba kita cerna sekali lagi bacaannya dan memasukkan dengan konteks yang ada di realita kehidupan sekarang. kita ambil contoh gausah jauh-jauh, kehidupan sehari-hari aja. individu.

First, we must agree upon one definition: agama. apa itu agama? jawabannya pasti beragam, ada yang jawab ideologi, pedoman hidup, dan seterusnya. but one thing’s for sure, agama itu provides value. memberikan kita arah, tujuan, dan aturan untuk sampai ke tujuan tersebut. dan misal saya hilangkan label “agama”, maka setiap agama kurang lebih adalah pemahaman. sama seperti nasionalism, liberalism, dll. All of them are the same in a way that they have certain principle and values. the difference is some values can go hand in hand and some can’t.

Second, what does it mean by saying “memperdagangkan sesuatu buat kekuasaan”? okay, tadi kan saya bilang ambil contoh kehidupan sehari-hari aja biar lebih mudah di mengerti. lets say mau ada pemilihan ketua himpunan mahasiswa. waktu kampanye ini, mereka sedang “berdagang”, yaitu menukar apa yang mereka punya dengan harapan dibalas dengan vote para pemilih. para calon ini menawarkan apa? banyak dan gak terbatas. ide, gagasan, prinsip, dan value. bahkan kadang popularitas, sense of humor, dan ketampanan juga bagian dari apa yang mereka tawarkan.

Nah, mari kembali ke poin pertama, agama dan pemahaman lainnya adalah sama dalam artian masing2 memberikan value tersendiri yang ditawarkan ke para pemilih. if that’s the case, berarti bukankah sah jika ada yang “memperdagangkan agama untuk kekuasaan?”. Kan mereka “menjual” ke publik, value yang mereka yakini adalah yang paling benar. same case as liberals imposing liberal values, nasionalist imposing nasionalis values, and religious people imposing religious values. how is that any different?

intinya, berhati-hatilah dalam membaca statement. cerna dulu. dan jangan anti-diskusi kalau sudah bawa agama. takutnya, agama yang seharusnya jadi pedoman kita dalam hidup, malah dibuang jauh-jauh dari tempat yang mengatur cara kita hidup– our government.

to end this, let’s see what Gandhi had to say about this issue:

politik-religion-gandhi

 

 

 

The Last Sermon (Khutbah) of Prophet Muhammad (Farewell Sermon)

Prophet Muhammad (SAWS) delivered his last sermon (Khutbah) on the ninth of Dhul Hijjah (12th and last month of the Islamic year), 10 years after Hijrah (migration from Makkah to Madinah) in the Uranah Valley of mount Arafat. His words were quite clear and concise and were directed to the entire humanity.

After praising, and thanking Allah he said:

“O People, lend me an attentive ear, for I know not whether after this year, I shall ever be amongst you again. Therefore listen to what I am saying to you very carefully and TAKE THESE WORDS TO THOSE WHO COULD NOT BE PRESENT HERE TODAY.

O People, just as you regard this month, this day, this city as Sacred, so regard the life and property of every Muslim as a sacred trust. Return the goods entrusted to you to their rightful owners. Hurt no one so that no one may hurt you. Remember that you will indeed meet your LORD, and that HE will indeed reckon your deeds. ALLAH has forbidden you to take usury (interest), therefore all interest obligation shall henceforth be waived. Your capital, however, is yours to keep. You will neither inflict nor suffer any inequity. Allah has Judged that there shall be no interest and that all the interest due to Abbas ibn ‘Abd’al Muttalib (Prophet’s uncle) shall henceforth be waived…

Beware of Satan, for the safety of your religion. He has lost all hope that he will ever be able to lead you astray in big things, so beware of following him in small things.

O People, it is true that you have certain rights with regard to your women, but they also have rights over you. Remember that you have taken them as your wives only under Allah’s trust and with His permission. If they abide by your right then to them belongs the right to be fed and clothed in kindness. Do treat your women well and be kind to them for they are your partners and committed helpers. And it is your right that they do not make friends with any one of whom you do not approve, as well as never to be unchaste.

O People, listen to me in earnest, worship ALLAH, say your five daily prayers (Salah), fast during the month of Ramadan, and give your wealth in Zakat. Perform Hajj if you can afford to.

All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety (taqwa) and good action. Learn that every Muslim is a brother to every Muslim and that the Muslims constitute one brotherhood. Nothing shall be legitimate to a Muslim which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not, therefore, do injustice to yourselves.

Remember, one day you will appear before ALLAH and answer your deeds. So beware, do not stray from the path of righteousness after I am gone.

O People, NO PROPHET OR APOSTLE WILL COME AFTER ME AND NO NEW FAITH WILL BE BORN. Reason well, therefore, O People, and understand words which I convey to you. I leave behind me two things, the QURAN and my example, the SUNNAH and if you follow these you will never go astray.

All those who listen to me shall pass on my words to others and those to others again; and may the last ones understand my words better than those who listen to me directly. Be my witness, O ALLAH, that I have conveyed your message to your people”.

(Reference: See Al-Bukhari, Hadith 1623, 1626, 6361) Sahih of Imam Muslim also refers to this sermon in Hadith number 98. Imam al-Tirmidhi has mentioned this sermon in Hadith nos. 1628, 2046, 2085. Imam Ahmed bin Hanbal has given us the longest and perhaps the most complete version of this sermon in his Masnud, Hadith no. 19774.)