Author: Hudzaifah Abdullah

22 years old. Indonesian. studies Economics. Interested in Islam, Developmental Economics, Football, and anything in between. In a messed up world, here is my journey to rediscover the Truth.

What is Religious Freedom?

Two religiously afflicted issues has happened in recent months, in different parts of the world. First, in Indonesia where The Jakarta court sentenced governor Basuki “Ahok” Purnama to two years’ imprisonment for blasphemy against Islam. In short, Ahok was charged because he said Muslims were being deceived if they believed in Al-Maidah:51, which is a verse in the Qur’an that forbids Muslims to choose a Non-Muslim leader. This issue divided opinions in religious, legal, and political aspects. In the end, Ahok was accused and sentenced for blasphemy.

At the other part of the world, in the USA to be specific, issue of blasphemy also took place. Bernie Sanders had an issue with Russell Vought, President Trump’s nominee for deputy director of the Office of Management and Budget. To be brief, Vought once wrote in an article that Muslims are condemned because they have rejected Jesus Christ as the son of God. Sanders did not take this very well and object Vought as a nominee. Sanders said “In my view, the statement made by Mr. Vought is indefensible, it is hateful, it is Islamophobic, and it is an insult to over a billion Muslims throughout the world,”

A minor yet funny thing from this, is that the sides that are objecting towards blasphemy, and demanding more tolerance are actually two opposite sides. In Indonesia, the ones that are against Ahok and his alleged act of blasphemy are known as the more conservative ones. Whereas in USA, Bernie Sanders, is well-known from the American left, democrat party, and representing the so-called more progressive people.

So how did this come about? How can two different sides with different values, be similar in their cause?

From what I see, the root cause of this is that both sides have used the notion of tolerance, anti-discrimination, and religious freedom and played it for their own will. What we need to understand is that the terms “tolerance” “discrimination” and “freedom” are such abstract terms and can be easily manipulated by anyone. You can see it everywhere right now, and it comes to a point where disagreeing with someone can be easily misinterpreted as an act of hate, discrimination, and intolerance. But it shouldn’t be that way.

A disagreement should not prevent peaceful coexistence and should not be equaled as hate. On the contrary, acknowledging that people have differences is a fundamental part of peaceful coexistence. From the two examples above, what we are seeing is not an effort to understand and discuss these disagreements, but an attempt to throw something so important, such as religion, under the bus and shut down any chance of fruitful discussion. If this is the definition of religious freedom, than this is only pushing us to be more ignorant towards each other, and that of course, does not help to cool down the tensions that is already happening right now.

Religious freedom is, in my opinion, the ability to choose independently on what you believe in, and the only way to reach that is through a spiritual journey of seeking the truth.  If saying that “anything other than my belief is wrong” is now forbidden, than I am afraid we are getting things wrong. We are not allowing the process of truth-seeking for every individual by preventing them to discuss publicly on differences of faiths. If we go by the current norms now and say all religions are the same, then how, by any means, would a person get to the truth? at the end this will lead to the abandonment of religion at large.

Back to the case, Was Ahok wrong to say that the Quranic scripture was a lie? After all, he is a Christian, meaning anything other than christianity for him, personally, is a false belief.

Was Russel Vought wrong to say Muslims are condemned? Isn’t it just an act of expression of his personal belief?

what Ahok and Vought did, in a theological sense, was expressing their religious beliefs. But we also need to take note in the way they convey the message. In Islam we call this as adab. that is beyond my capacity to discuss but as far as I know, Islam talks at length about adab, and is something we take very importantly.

My references:

http://muslimmatters.org/2017/06/23/bernie-sanders-and-the-mirage-of-religious-freedom/

http://www.thepublicdiscourse.com/2017/06/19564/

http://arcoftheuniverse.info/religious-freedom-includes-right-to-say-you-are-wrong

 

Advertisements

Thank You

I still remember vividly when you taught me how to write a paper.

I was stressed out because it was the first paper assignment in my campus life. I had no experience on writing, let alone an academic one. It was h-1 deadline and my paper was still blank. I didn’t how and where to start.

Then you said “try starting with writing the outline first”. “The key is to just write. Don’t think too much, just write what’s in your head. Then it will flow and you can correct it later on.” 

Simple advice yet a very crucial one. To this date still, i always kept that advice with me whenever i write. 

And here i am now, just finished my undergrad thesis and completed my thesis defense, with great results, Alhamdulillah. Thank you. I hope I made you proud up there.

Masjid Istiqlal

12.27 a.m.; 27 Ramadhan.

Memaknai Kebahagiaan

 

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور

Artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,. seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid: 20)

Dalam memaknai kebahagiaan banyak aspek dan perspektif yang bisa kita pakai. Perspektif nikmat adalah yang paling mudah. Nikmat merupakan suatu hal yang positif bagi manusia, selalu digunakan untuk menunjukkan hal yang positif, baik dalam bentuk perasaan, fisik, ataupun non-fisik. Semua orang ingin mendapatkan nikmat sebanyak-banyaknya, mau itu materi ataupun nikmat non-materi.

Namun didalam ayat diatas dijelaskan bahwa tidak semua nikmat itu baik. Nikmat akan jadi buruk jika kita tidak bisa menyikapinya dengan benar. Jika kita tidak bisa menggunakan nikmat itu dengan benar. Ketika kita salah menyikapi dan menggunakan nikmat kita, maka nikmat itu kemudian jadi cobaan untuk kita. Dan jika kita gagal melawan dan menghadapi cobaan tersebut, maka kita bisa terjerumus lubang dosa.

Menariknya, didalam ayat tersebut, segala nikmat yang ada di dunia ini ditulis berdasarkan runtutan ketika menerima dan merasakan nikmat tersebut sesuai dengan umur kita. Dari ketika kita kecil sampai kita dewasa. Berdasarkan ceramah dari Ust. Nouman Ali Khan yang saya dengar beberapa tahun yang lalu, saya ingin coba mengingat kembali beberapa makna yang terkandung dalam ayat ini terkait kebahagiaan berdasarkan runtutan umur.

Pertama disebutkan bahwa kehidupan ini hanyalah permainan yang melalaikan. Jika kita perhatikan, kapan biasanya kita senang-senang bermain? Biasanya saat kita masih anak-anak. Keinginan kita pada saat itu hanya ingin bermain dnegan teman-teman rumah, sodara, ataupun teman sekolah. Bisa bermain bola, game, boneka, atau apapun itu. bisa dismpulkan bahwa kenikmatan utama anak-anak adalah bermain.

Kedua disebutkan bahwa kehidupan hanya perhiasan. Disini menurut Ust. Nouman, perhiasan juga bisa diartikan kecantikan. Karena memang dari definisi umum pun, perhiasan digunakan untuk memperindah penampilan agar terlihat lebih indah dan cantik. Jika kita perhatikan, kapan biasanya kita sangat perhatian pada penampilan? Pada saat remaja. Kita sudah mulai mengenal dan bermain dengan lawan jenis, dan juga timbul masa pubertas. Hal-hal ini beriiringan dengan cara kita tampil. Kita kemudian lebih memperhatikan bagaimana kita tampil, yang perempuan memikirkan hijab mana yang paling bagus, yang laki-laki memikirkan rambut mana yang pas untuk dia, itu adalah beberapa contohnya.

Ketiga yaitu bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Ini timbul saat kita dewasa. Kita mulai mempunyai pekerjaan dan memulai berkeluarga, sehingga obsesi kita adalah mempunyai pekerjaan terbaik dengan gaji yang tinggi serta keluarga yang harmonis. Itulah tujuan kita saat dewasa dan kita baru akan bahagia bila mencapai hal tersebut.

Namun selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa semua hal yang disebutkan diatas adalah kesenangan yang sementara, kenikmatan semu. Analoginya pun sangat pas, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Kebahagiaan-kebahagiaan yang disebutkan diatas hanya bersifat sementara, sangat sementara. Kemudian Allah SWT kembali mengingatkan dan menegaskan di ayat ini bahwa akhirat lah tujuan akhir kita, tujuan abadi, sehingga target kita haruslah menggapai ridho dan ampunan-Nya.

Jadi, dari ayat tersebut bisa kita simpulkan bahwa semua apa yang ada di dunia, kenikmatannya hanya sementara, dan kesenangannya menipu. Sebagai muslim kita harus fokus kepada tujuan akbar kita, yaitu akhirat. Karena di akhirat adalah tempat kembali yang abadi, sehingga segala usaha kita di dunia ini harus sejalan dan membantu kita dalam menggapai tujuan akhir kita ini. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat.

Sesat Pikir dalam Memahami Kebebasan Memilih

          Free choice atau kebebasan memilih sepertinya sudah menjadi jargon yang melekat di era modern saat ini untuk para aktivis liberal. Inti dari argumentasinya adalah bahwa semua pilihan kembali kepada pribadi masing-masing, dan tidak boleh ada yang mengekang atau membatasi pilihan individu tersebut, selama pilihannya tidak melanggar kode etik atau menganggu dan membahayakan orang lain. Sekilas memang terdengar sangat toleran dan humanis, namun ketika argumentasi ini dipakai untuk membenarkan perbuatan yang salah, disinilah kita, Muslim, harus lebih kritis.

            Islam sendiri sering dikatakan sebagai pemahaman yang terlalu mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu dalam memilih oleh para musuhnya. Contoh yang umum misalnya tentang pemakaian hijab wanita, dikatakan oleh para lawan bahwa wanita tidak bebas dalam Islam untuk berpakaian dan ini mengekang wanita dan tidak mendukung kebebadan memilih individu.

            Dalam menjawab tuduhan ini, terkadang Muslim menjadi defensif dan menolak mentah-mentah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa Islam sebenarnya mendukung kebebasan. Arguemntasinya adalah dengan memakai hijab ini saya malah menggunakan kebebasan saya dalam berpakaian dan berani menjadi berbeda dari wanita-wanita lainnya diluar. Masalah dengan argumentasi ini adalah istiliah “kebebasan untuk memilih” ini ditelan mentah-mentah dan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan wajib di bela. Akhirnya, kita malah masuk ke dalam pemahaman sekuler. Padahal jika kita kritisi lagi, mau di dalam Islam ataupun di sistem sekuler, kebebasan individu ini pasti ada yang dibatasi.

            Dalam menentukan pilihan, individu dihadapi oleh dua situasi yang berbeda, yaitu ada pilihan berdasarkan preferensi, dan ada pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika kita memilih makanan di restoran antara mie atau nasi, ini merupakan pilihan berdasarkan preferensi. Pilihan preferensial inilah yang memberikan kebebasan penuh kepada individu untuk memilih, dan masuk ke dalam kategori “free choice”, karena jika ada yang mengekang maka itu benar-benar berdasarkan kesewenangan dan tanpa alasan.

            Namun ada situasi pilihan lain, yaitu pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika seorang individu sedang mengendara dan berhenti di lampu merah, individu tersebut mempunyai pilihan untuk berhenti atau terus melaju. Perbedaannya dengan pilihan preferensial, pilihan moral ini ada konsekuensinya. Pilihan ini sudah bukan lagi tentang preferensi, namun pilihan tentang ketaatan terhadap hukum. Adanya konsekuensi jika tidak taat hukum mengindikasikan bahwa pilihan individu tersebut tidak sepenuhnya bebas, sehingga tidak masuk kategori “free choice”.

            Setelah mengetahui dua situasi dalam menetukan pilihan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah, kapan seseorang menghadapi pilihan moral? Yaitu ketika individu tersebut mempunyai konsekuensi atau hukuman ketika menentukan suatu pilihan. Dalam hal ini, konsekuensi hukuman bisa berupa apa saja, terkadang denda, pengucilan sosial, hukuman penjara, hukuman di akhirat, dan masih banyak lagi. Semua berakar dari hukum mana yang kita percayai dan anut.

         Kembali ke contoh kasus hijab tadi, baik musuh Islam yang mengatakan bahwa Islam mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu, ataupun para Muslim yang defensif yang mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu dalam memilih, dua-duanya salah dan telah sesat pikir dalam memahami kebebasan dalam memilih. Peraturan pemakaian hijab untuk wanita seutuhnya adalah pilihan berdasarkan moral, karena jika tidak taat pada peraturan tersebut maka akan ada konsekuensinya, dalam hal ini dosa. Sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu seorang Muslim, namun yang seharusnya kita katakan adalah ini bentuk ketaatan kita sebagai seorang Muslim.

        Terlebih, dapat disimpulkan bahwa sistem sekuler pun tidak mendukung sepenuhnya kebebasan individu untuk menentukan pilihan karena di sistem sekuler pun banyak hal-hal yang dibatasi yang mungkin saja bertentangan dengan preferensi pilihan seseorang. Masalahnya adalah, siapa yang berhak menentukan kapan sesuatu boleh dibatasi dan berdasarkan basis apa dibatasi hal tersebut? Disinilah muncul kelemahan Sekularisme.

        Sebagai contoh, mari kembali ke hijab dan cara wanita berpakaian. Dalam Islam, sudah sangat jelas bahwa yang menentukan tata cara wanita berpakaian adalah Allah SWT melalui Al-Qur’an dan hadist.  Sedangkan untuk basis sekuler, tata cara wanita berpakaian didasari oleh perkembangan kultur dari zaman ke zaman yang entah didasari oleh apa, dan juga ditambah kepentingan komersil berbasis kapitalis. Hal ini membuktikan dua hal, pertama, sistem sekuler pun membatasi wanita dalam berpakaian. Misal, adanya istilah dresscode, standar pakaian di tempat-tempat khusus (ex: baju kantor harus rapih dan sopan), dan lain-lain. Kedua, basis sekuler dalam membatasi wanita dalam berpakaian lebih tidak berbasis dibandingkan Islam.

      Pada akhirnya, kita sebagai Muslim harus lebih kritis dalam melawan pemahaman sekularsime dan jangan sampai masuk ke dalam lingkup pemahaman mereka. kita harus kembali mempertanyakan argumentasi dari sisi mereka, karena disitulah letak sesat pikirnya.

 

Are we closed-minded?

It’s tough now if you want to defend Islam. They’ll say we’re not open-minded, stubborn, not catching up with modern civilization. Although even their claims are not strong enough, lets focus on this accusation.

just hold that thought for a minute. Are we really that closed-minded?

Look at the current state of this world. We’re living in a world where islamic values are being scrutinized, both by the media, public figures, and scholars. 

Content on the news and social media are all celebrating freedom and all sorts of secular values, framing it with humanist jargons.

Also take a look at the public school and universities where we are encouraged to be critical whilst there still remains minimum content of religion in our education system.

by that depiction, I think it’s fair to say that we’re the ones that are open-minded. We’re the ones that are reluctant to follow the mass opinion. We’re the ones who are open to other values and principals beside what the media tells us to believe. We’re the ones who are open to learn other things besides what out education system has given us. If anything, they’re the ones that are closed-minded, following what they’ve been hearing and learning all along.

Just think about it.

Kebaikan Tak Pernah Samar

Pada saat yang benar menjadi samar, dan yang salah menjadi wajar, kita kadang kembali bertanya dimana garis batas kebaikan dan keburukan.

Jika argumentasi relativisme kembali berdengung, semua menjadi kabur, yang awam menjadi bingung, seolah semua bisa di justifikasi, asal ada alasan kuat.

Sayangnya, alasan kuat dibenarkan dengan banyaknya pihak luar yang meng-iya-kan, walau pihak dalam, hati, memberontak penuh kekesalan. 

Padahal Rasulullah sudah menjelaskan, bagaimana cara kita mengidentifikasi kebaikan, juga keburukan.

Dari an-Nawas bin Saman radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, Segala kebaikan adalah akhlak luhur, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dirimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya. (HR. Muslim) 

Serta dari Wabishah bin Mabad radhiyallahu anhu, ia berkata, Aku telah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa? Aku menjawab, Benar. Beliau bersabda, Mintalah pendapat hatimu. Kebaikan adalah segala yang menenteramkan jiwa dan menenangkan hati, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, meskipun orang-orang memberikan fatwa yang lain kepadamu . (HR. Imam Ahmad bin Hambal dan ad-Darimi; hadits hasan)

Islam tak pernah samar, selalu memberi kejelasan. Bahwa apa saja yang meresahkan hati dan meragukan jiwa, biarpun manusia mewajarkan, adalah dosa. Sebaliknya, segala yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, maka dekatilah, karena disitu letak kebaikan.

Di kala manusia membuat standar nya sendiri, disitulah kita harus kembali, tanya kepada hati, untuk mengetahui kebenaran yang hakiki.