Sesat Pikir dalam Memahami Kebebasan Memilih

          Free choice atau kebebasan memilih sepertinya sudah menjadi jargon yang melekat di era modern saat ini untuk para aktivis liberal. Inti dari argumentasinya adalah bahwa semua pilihan kembali kepada pribadi masing-masing, dan tidak boleh ada yang mengekang atau membatasi pilihan individu tersebut, selama pilihannya tidak melanggar kode etik atau menganggu dan membahayakan orang lain. Sekilas memang terdengar sangat toleran dan humanis, namun ketika argumentasi ini dipakai untuk membenarkan perbuatan yang salah, disinilah kita, Muslim, harus lebih kritis.

            Islam sendiri sering dikatakan sebagai pemahaman yang terlalu mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu dalam memilih oleh para musuhnya. Contoh yang umum misalnya tentang pemakaian hijab wanita, dikatakan oleh para lawan bahwa wanita tidak bebas dalam Islam untuk berpakaian dan ini mengekang wanita dan tidak mendukung kebebadan memilih individu.

            Dalam menjawab tuduhan ini, terkadang Muslim menjadi defensif dan menolak mentah-mentah tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa Islam sebenarnya mendukung kebebasan. Arguemntasinya adalah dengan memakai hijab ini saya malah menggunakan kebebasan saya dalam berpakaian dan berani menjadi berbeda dari wanita-wanita lainnya diluar. Masalah dengan argumentasi ini adalah istiliah “kebebasan untuk memilih” ini ditelan mentah-mentah dan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan wajib di bela. Akhirnya, kita malah masuk ke dalam pemahaman sekuler. Padahal jika kita kritisi lagi, mau di dalam Islam ataupun di sistem sekuler, kebebasan individu ini pasti ada yang dibatasi.

            Dalam menentukan pilihan, individu dihadapi oleh dua situasi yang berbeda, yaitu ada pilihan berdasarkan preferensi, dan ada pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika kita memilih makanan di restoran antara mie atau nasi, ini merupakan pilihan berdasarkan preferensi. Pilihan preferensial inilah yang memberikan kebebasan penuh kepada individu untuk memilih, dan masuk ke dalam kategori “free choice”, karena jika ada yang mengekang maka itu benar-benar berdasarkan kesewenangan dan tanpa alasan.

            Namun ada situasi pilihan lain, yaitu pilihan berdasarkan moral. Contoh mudahnya, ketika seorang individu sedang mengendara dan berhenti di lampu merah, individu tersebut mempunyai pilihan untuk berhenti atau terus melaju. Perbedaannya dengan pilihan preferensial, pilihan moral ini ada konsekuensinya. Pilihan ini sudah bukan lagi tentang preferensi, namun pilihan tentang ketaatan terhadap hukum. Adanya konsekuensi jika tidak taat hukum mengindikasikan bahwa pilihan individu tersebut tidak sepenuhnya bebas, sehingga tidak masuk kategori “free choice”.

            Setelah mengetahui dua situasi dalam menetukan pilihan tersebut, pertanyaan yang muncul adalah, kapan seseorang menghadapi pilihan moral? Yaitu ketika individu tersebut mempunyai konsekuensi atau hukuman ketika menentukan suatu pilihan. Dalam hal ini, konsekuensi hukuman bisa berupa apa saja, terkadang denda, pengucilan sosial, hukuman penjara, hukuman di akhirat, dan masih banyak lagi. Semua berakar dari hukum mana yang kita percayai dan anut.

         Kembali ke contoh kasus hijab tadi, baik musuh Islam yang mengatakan bahwa Islam mengekang dan tidak mendukung kebebasan individu, ataupun para Muslim yang defensif yang mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu dalam memilih, dua-duanya salah dan telah sesat pikir dalam memahami kebebasan dalam memilih. Peraturan pemakaian hijab untuk wanita seutuhnya adalah pilihan berdasarkan moral, karena jika tidak taat pada peraturan tersebut maka akan ada konsekuensinya, dalam hal ini dosa. Sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa hijab ini adalah bentuk kebebasan individu seorang Muslim, namun yang seharusnya kita katakan adalah ini bentuk ketaatan kita sebagai seorang Muslim.

        Terlebih, dapat disimpulkan bahwa sistem sekuler pun tidak mendukung sepenuhnya kebebasan individu untuk menentukan pilihan karena di sistem sekuler pun banyak hal-hal yang dibatasi yang mungkin saja bertentangan dengan preferensi pilihan seseorang. Masalahnya adalah, siapa yang berhak menentukan kapan sesuatu boleh dibatasi dan berdasarkan basis apa dibatasi hal tersebut? Disinilah muncul kelemahan Sekularisme.

        Sebagai contoh, mari kembali ke hijab dan cara wanita berpakaian. Dalam Islam, sudah sangat jelas bahwa yang menentukan tata cara wanita berpakaian adalah Allah SWT melalui Al-Qur’an dan hadist.  Sedangkan untuk basis sekuler, tata cara wanita berpakaian didasari oleh perkembangan kultur dari zaman ke zaman yang entah didasari oleh apa, dan juga ditambah kepentingan komersil berbasis kapitalis. Hal ini membuktikan dua hal, pertama, sistem sekuler pun membatasi wanita dalam berpakaian. Misal, adanya istilah dresscode, standar pakaian di tempat-tempat khusus (ex: baju kantor harus rapih dan sopan), dan lain-lain. Kedua, basis sekuler dalam membatasi wanita dalam berpakaian lebih tidak berbasis dibandingkan Islam.

      Pada akhirnya, kita sebagai Muslim harus lebih kritis dalam melawan pemahaman sekularsime dan jangan sampai masuk ke dalam lingkup pemahaman mereka. kita harus kembali mempertanyakan argumentasi dari sisi mereka, karena disitulah letak sesat pikirnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s