Month: June 2014

I won the Parent Lottery

Ini adalah tulisan kakak saya yang paling tua, tentang orangtua saya. tulisan yang membuat saya lebih “melek” dan tentunya bersyukur. dan membuat saya sadar selama ini saya cuma take if for granted apa yang telah diberikan orang tua kepada saya. those tiny yet impactful specific things they do for me and my brothers is something i should be grateful for. because not all parents do the same things to thier kids like mine does. Alhamdulillah.

jika ingin lihat tulisan lainnya silahkan di wirdanaardi.blogspot.com.

Bismillahirrahmanirrahiim

 

Jika Allah mengizinkan, saya akan diamanahkan seorang anak beberapa hari lagi. I can’t really tell you how I am feeling – perasaannya mungkin terlalu campur aduk. Tapi saya bisa sedikit berbagi tentang hal-hal yang mulai ngumpul dikepala, dan yang paling utama adalah: “bagaimana caranya jadi orang tua yang baik?”

 

Untuk menjawab pertanyaan ini saya sudah mulai baca-baca beberapa judul buku dan article tentang parenting. Tapi terus saya berpikir: “Ngapain saya capek-cape nyari buku tentang parenting, sedangkan contoh real, nyata, terbukti dan sangat terasa keberhasilannya ada di dalam hidup saya!”

 

Meminjam istilah yg di pake Randy Pausch dalam bukunya, “I won the parent lottery”. Kalo takdir pembagian orang tua itu sebuah undian, maka saya dan adik2 saya lah pemenang utamanya. Kami telah dihadiahkan oleh Allah orang tua yang terbaik. (Namun, sedikit sekali kami bersyukur untuknya).

 

Kenapa saya merasa beruntung? Well, let me tell you a tiny bit about my parents.

 

Pertama ibu. Ibu itu selalu ada. Bener-bener physically selalu ada untuk anak-anak nya. Saya mungkin akan menyinggung perasaan para atau calon ibu-ibu karir, but I don’t really care. Keyakinan dan prinsip ibu adalah: Anak yang pulang sekolah disambut oleh ibunya dirumah dan anak yang pulang disambut rumah kosong, itu buat anak beda banget rasanya, dan sangat mempengaruhi pertumbuhan psikologisnya. Alhamdulillah, seinget saya, sewaktu kecil kapanpun saya butuh ibu, ibu selalu ada. Perhatiannya, kepeduliannya, kasih sayangnya itu total buat anak-anaknya. Dan itu sangat terasa.

 

Hal lain yang membuat saya terkesan dan sangat mempengaruhi saya adalah bahwa ibu ngajar dengan memberi contoh. Ibu itu dhuha dan tahajudnya setiap hari hampir gak pernah bolong. Begitu juga ngaji dan al-matsuratnya. Ini semua kelihatan sama anak-anaknya bahkan sebelum dia nyuruh kita untuk membiasakan ibadah-ibadah ini. Jadi waktu kita disuruh ya Alhamdulillah, tentu dengan izin Allah, jadi gampang aja – anak anakya langsung ngerjain. Subhanallah. Sekarang Alhamdulillah saya dan adik saya yang pertama, sebisa mungkin kita ga pernah ninggalin dhuha dan tahajud. I don’t know about my two smallest brothers, but I really hope they do too, karena ini selain sunnah Rasulullah Saw, tapi juga kebiasaan ibu mereka yang gak pernah ditinggalkannya.

 

Ibu itu intra dan inter personal skillsnya bagus banget, Dia sangat tau cara menempatkan diri di tempat2 tertentu. Dia bisa banget bikin orang nyaman ngobrol sama dia. Termasuk dengan anak-anaknya. She knows when to be strict and when to be friendly. Semoga semua ini bisa nurun ke saya dan istri.

 

My dad. Well, he’s my example, but I don’t know if I can make it. Saya selalu bilang: If I can be just half as great as him, then I will be happy.

 

He’s a true family man. Keluarga nomor satu. Titik! Kerja, temen, hobi, semua kalah sama keluarga. Gak ada ceritanya di keluarga kami ayah pulang pas magrib. Maximal jam 5 udah dirumah. Sempet ada tawaran kerja tambahan – uangnya gede, tapi waktu dan pikiran abis dipekerjaan – ga ada yang bertahan sampe setengah tahun itu.

 

Selain itu yang keren adalah dia selalu menyimpan sisi terbaiknya untuk keluarganya. Banyak orang-orang yang kalo sama rekan kerja itu terlihat asyik, keren, perhatian, tapi kalo udah pulang ke keluarganya mukanya capek, lesu, galak. My dad is the opposite. Saat sama temen-temen kerja dia terlihat kaku and boring, tapi saat bersama anak-anaknya dia berubah total – asyik, ketawa, becanda.

 

Dia orang paling sabar sedunia. Seinget saya, ga pernah sekalipun dia meninggikan suaranya karena marah sama anak-anak atau istrinya. Gak pernah. Never, not even once. Mudah-mudahan saya bisa seperti ini.

 

Dia juga contoh sikap ‘biasa aja’. He’s probably a genius. Dia S3 di bidang material science. Orang lain dengan pencapaian dia mungkin ngerasa pede dikit boleh lah. Tapi dia tetap mempertahankan rasa rendah hati, malu, takut salah ngomong, bahkan ke tukang-tukang dekat rumah.

 

Sekali lagi, semoga saya dan istri, dan juga adik-adik saya beserta istri-istrinya, bisa mengadopsi cara-cara Ibu dan Ayamu.

 

Seperti yang pernah saya tweetkan belum lama ini, “If I (and my brothers) don’t become great parents, then we only have ourselves to blame, coz we have the best example right here at home”.

 

Ya Rabb, balaslah kebaikan orangtuaku dengan Jannah untuk mereka. Aamiin.

 

Wallahu a’lam.

 

Semoga ada manfaatnya.

Advertisements